Sarkowi Desak Evaluasi Izin Usaha di DAS Mahakam Demi Selamatkan Ikan Pesut
Samarinda, Gayamnews.com – Anggota DPRD Kalimantan Timur, Sarkowi V Zahry, kembali menyuarakan keprihatinannya terhadap nasib pesut Mahakam yang kian terancam punah.
Ia menegaskan bahwa pelestarian mamalia endemik Sungai Mahakam ini membutuhkan langkah konkret dan tegas dari pemerintah, khususnya melalui evaluasi total terhadap izin usaha yang beroperasi di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam.
Menurut Sarkowi, banyak aktivitas industri yang masih berlangsung di sekitar kawasan konservasi pesut dan justru memperparah kerusakan habitat mereka.
Ia mendesak pemerintah provinsi serta kabupaten/kota untuk mengkaji ulang izin-izin tersebut dan menertibkan perusahaan yang terbukti berdampak negatif terhadap lingkungan.
“Zona perlindungan harus benar-benar steril, bukan hanya simbolis. Kalau habitatnya tetap diganggu, peraturan itu jadi tidak berguna. Kita butuh ketegasan,” ujar Sarkowi, Kamis (3/7/2025).
Ia menilai bahwa selama ini terlalu banyak kompromi yang dilakukan atas nama pembangunan, padahal hal tersebut justru bertolak belakang dengan konsep pembangunan berkelanjutan.
“Tidak bisa kita terus kompromi dengan alasan pembangunan. Pembangunan yang merusak alam bukanlah kemajuan, itu kemunduran,” katanya.
Untuk itu, Sarkowi mendorong pembentukan satuan tugas (satgas) khusus yang bertugas memantau dan memulihkan habitat pesut Mahakam.
Ia menegaskan bahwa pelestarian spesies ini tidak bisa hanya dibebankan kepada satu instansi saja, melainkan memerlukan keterlibatan aktif dari lintas sektor dan berbagai pemangku kepentingan.
“Kita perlu pendekatan lintas sektor. Jangan hanya tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup, tapi juga melibatkan instansi perhubungan, perikanan, hingga penegak hukum,” sarannya.
Selain dari sisi regulasi dan pengawasan, Sarkowi juga menyoroti pentingnya edukasi publik yang lebih luas. Ia mengatakan bahwa kesadaran masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian pesut Mahakam.
“Kalau tidak ada kesadaran dari masyarakat, maka kebijakan saja tidak akan cukup,” jelasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan peringatan bahwa waktu untuk menyelamatkan pesut Mahakam semakin sempit. Jika tidak segera diambil tindakan nyata, spesies ini akan menyusul jejak kepunahan satwa lain akibat kelalaian manusia.
“Kalau kita kehilangan pesut Mahakam, itu bukan hanya kehilangan spesies. Itu kegagalan moral dan ekologis kita sebagai manusia,” tutupnya. (Adv)









