Agusriansyah Soroti Tingginya Anak Tidak Sekolah di Kutim, Desak Perbaikan Akses dan Sistem Pendidikan
Samarinda, Gayamnews.com – Anggota DPRD Kalimantan Timur dari Daerah Pemilihan VI, Agusriansyah Ridwan, menyoroti kondisi memprihatinkan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terkait jumlah anak yang belum mendapat akses pendidikan.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan per 10 Maret 2025, tercatat 9.945 anak di Kutim belum pernah bersekolah, sementara 1.996 anak putus sekolah, dan 1.470 lainnya tidak melanjutkan pendidikan meski telah menyelesaikan jenjang sebelumnya.
“Ini masalah serius. Kutai Timur menjadi daerah dengan jumlah anak tidak sekolah tertinggi di Kalimantan Timur, melebihi Kutai Kartanegara maupun Kota Samarinda. Artinya, ada yang tidak berjalan dengan baik dalam sistem pendidikan kita,” kata Agusriansyah.
Politikus dari PKS itu mendesak Pemerintah Kabupaten Kutim untuk mengambil tindakan cepat dan terukur. Ia menilai ketimpangan akses pendidikan, terutama di daerah-daerah terluar dan tertinggal, menjadi penyebab utama persoalan ini.
Agusriansyah juga mendorong adanya penelitian yang lebih mendalam terkait faktor-faktor penyebab banyaknya anak di Kutim yang tidak bersekolah. Ia menduga, sebagian dari mereka adalah anak dari keluarga pendatang yang belum terdata resmi, atau anak-anak yang sudah mulai bekerja karena kondisi ekonomi keluarga.
“Kemungkinan banyak di antara anak-anak ini yang telah beralih bekerja atau berasal dari keluarga pendatang yang tidak terdaftar sebagai penduduk resmi Kutim. Ini perlu menjadi bahan penelitian, apakah disebabkan oleh ketiadaan sekolah atau jarak yang jauh, sehingga anak-anak enggan untuk melanjutkan pendidikan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pendidikan merupakan pilar utama pembangunan daerah. Ketika hak dasar anak untuk bersekolah tidak terpenuhi, maka masa depan daerah juga terancam.
“Jika pemerintah gagal memastikan seluruh anak bisa mengenyam pendidikan, maka kita sama saja dengan gagal membangun masa depan daerah ini,” tegasnya.
Untuk itu, ia mengusulkan agar sistem pendidikan di Kutim dirancang lebih inklusif dan sesuai dengan karakteristik lokal, termasuk potensi wilayah dan nilai-nilai budaya setempat.
“Kami harus menciptakan sistem pendidikan yang relevan dan dapat diakses oleh semua anak, sehingga mereka bisa meraih masa depan yang lebih baik,” tutupnya.
Agusriansyah berharap agar semua pemangku kepentingan di sektor pendidikan bersinergi untuk memastikan tidak ada lagi anak-anak Kutim yang tertinggal dari hak dasarnya untuk belajar. (Adv)









