banner Iklan
banner Iklan

Darlis Pattalongi Dorong Pembangunan Ulang SMAN 4 Samarinda dengan Konsep Ramah Lingkungan

Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, HM Darlis Pattalongi.

Samarinda, Gayamnews.com – Sekretaris Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, HM Darlis Pattalongi, mengusulkan perlunya pembangunan ulang total terhadap SMA Negeri 4 Samarinda yang berlokasi di Jalan KH Harun Nafsi, kawasan Rapak Dalam, Samarinda Seberang.

Ia menyebutkan bahwa kondisi bangunan yang sudah tua dan kerap terdampak banjir membuat sekolah tersebut tak lagi layak digunakan tanpa penanganan menyeluruh.

“Kondisi SMAN 4 memang sudah tidak memungkinkan lagi untuk terus digunakan tanpa penanganan serius. Setiap musim hujan, sekolah ini nyaris selalu terendam. Saya tahu persis karena saya alumni, Ketua Komite, dan juga warga yang tinggal tak jauh dari sekolah itu,” ujar Darlis, Jumat (20/6/2025).

Ia menjelaskan, sekolah itu berdiri di atas lahan rawa yang dulunya berfungsi sebagai daerah serapan air. Namun, perkembangan pemukiman membuat daerah tersebut kehilangan fungsinya, sehingga banjir menjadi langganan.

“Lahan itu dulunya rawa, daerah resapan. Jadi wajar kalau sekarang sering tergenang. Tapi justru karena itu kita tidak boleh sembarangan membangun. Tidak bisa lagi pakai pola lama yang menimbun tanah, karena itu malah memperparah banjir,” katanya.

Sebagai solusi, Darlis telah mengajukan usulan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim. Ia menyebutkan bahwa perencanaan teknis akan dilakukan pada 2025, dengan target pembangunan fisik dimulai pada 2026.

Namun, ia menekankan bahwa metode pembangunan tidak boleh konvensional, melainkan menggunakan model rumah panggung.

“Bangunan panggung ini bukan sekadar solusi teknis, tapi juga penghormatan terhadap kearifan lokal. Rumah-rumah di Kalimantan dulu rata-rata rumah panggung, karena memang tanahnya rawa. Kita harus kembali kepada cara berpikir yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan,” ungkapnya.

Model panggung dinilai lebih adaptif terhadap lingkungan, tahan banjir, dan justru lebih hemat dalam jangka panjang dibanding pembangunan dengan metode penimbunan lahan.

“Kalau kita bangun pakai cara lama, lalu lima tahun banjir, rusak, lalu bangun lagi, itu jauh lebih mahal. Jadi justru pendekatan yang ramah lingkungan itu lebih ekonomis dalam jangka panjang,” tegas Darlis.

Untuk memastikan kegiatan belajar tetap berjalan selama proses pembangunan, Darlis menyebutkan beberapa alternatif lokasi sementara, seperti Kampus Yayasan Melati, fasilitas SKOI Palaran, hingga kelas kosong di sekolah sekitar Samarinda Seberang.

“Solusi sementara sudah dipikirkan. Yang penting tidak ada gangguan terhadap proses belajar siswa. Kita ingin pembenahan ini berjalan lancar, tapi juga manusiawi dan terencana,” katanya.

Lebih jauh, ia berharap desain baru SMAN 4 bisa menjadi contoh pembangunan di kawasan rawan banjir lainnya di Samarinda. Pendekatan konstruksi panggung, menurutnya, harus dijadikan prototipe pembangunan yang selaras dengan kondisi geografis lokal.

“Mindset pembangunan kita harus berubah. Selama ini selalu berpikir bangun berarti menimbun. Itu harus diakhiri. Kita harus mulai bangun ke atas, bukan ke dalam tanah. Biarkan air tetap punya tempat mengalir,” ucapnya.

“Kalau kita terlalu ikut arus modern tanpa memahami kondisi alam kita, ya seperti sekarang: banjir makin parah, kerusakan makin sering. Padahal leluhur kita sudah punya caranya: bangun rumah panggung,” tambahnya.

Dengan keyakinan akan adanya sinergi antara masyarakat dan pemerintah, Darlis optimis bahwa pembangunan ulang SMAN 4 akan menjadi tonggak perubahan arah pembangunan di Kaltim, yang tidak hanya fungsional, tetapi juga adaptif terhadap perubahan iklim dan lingkungan. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *