banner Iklan
banner Iklan

Legislator Kaltim Desak Tindakan Nyata Selamatkan Pesut Mahakam dari Ancaman Kepunahan Akibat Aktivitas Industri

Sarkowi V. Zahry, anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim).

Samarinda, Gayamnews.com – Nasib pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), satwa air endemik Sungai Mahakam, kian mengkhawatirkan. Dari ribuan populasi global, jumlah pesut yang masih bertahan di perairan Mahakam kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 60 hingga 80 ekor.

Kondisi ini menempatkan spesies tersebut pada status kritis, memicu perhatian serius dari kalangan legislatif.

Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Sarkowi V Zahry, menyuarakan kekhawatirannya atas penurunan populasi pesut yang terus terjadi dari tahun ke tahun. Ia menilai aktivitas manusia yang semakin intensif di kawasan sungai, terutama lalu lintas tongkang batubara, menjadi penyebab utama terganggunya habitat alami mamalia air ini.

“Pesut itu makhluk yang sensitif. Hidupnya sangat bergantung pada ketenangan dan kualitas perairan. Jika setiap hari mereka harus menghadapi kebisingan dari kapal dan tongkang, maka lama-lama mereka tidak bisa bertahan hidup,” tegasnya, Kamis (3/7/2025).

Sarkowi menyebut bahwa meskipun secara aturan hukum konservasi telah tersedia, baik di tingkat nasional maupun daerah pelaksanaan di lapangan masih sangat lemah. Kawasan konservasi yang sudah ditetapkan tetap dijadikan jalur lalu lintas industri tanpa pengawasan ketat.

“Peraturannya ada, kawasan konservasi juga sudah ditetapkan. Tapi kenyataannya, tidak ada pengawasan yang tegas. Tongkang dan kapal masih lalu-lalang tanpa kendali. Ini bukti lemahnya komitmen terhadap konservasi,” katanya.

Ia menegaskan bahwa persoalan menyusutnya populasi pesut bukan hanya persoalan ekologi, tetapi juga mencerminkan gagalnya upaya pemerintah dalam melindungi kekayaan hayati yang menjadi kebanggaan Kaltim.

“Ini bukan sekadar soal lingkungan. Ini soal harga diri kita sebagai bangsa yang punya tanggung jawab melestarikan satwa endemik,” lanjut Sarkowi.

Dengan nada serius, ia mengingatkan agar jangan sampai pemerintah dan masyarakat mengulangi kesalahan yang sama seperti dalam kasus kepunahan spesies lain yang terlambat diselamatkan.

“Kita harus belajar dari kepunahan spesies lain. Jangan sampai terlambat dan hanya bisa menyesal,” ujarnya.

Lebih jauh, Sarkowi menekankan bahwa keberadaan pesut Mahakam bukan hanya penting bagi keseimbangan ekosistem sungai, tapi juga merupakan simbol identitas ekologis masyarakat Kaltim.

Ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kelangsungan hidup pesut, sebagai bagian dari warisan alam yang tidak tergantikan.

“Pesut Mahakam adalah bagian dari kita. Jika mereka hilang, kita kehilangan bagian penting dari identitas kita sebagai masyarakat sungai,” tandasnya.

Sarkowi mendorong adanya langkah nyata dari pemerintah daerah maupun pusat untuk memperkuat pengawasan, merevisi kebijakan lalu lintas air di sungai Mahakam, dan melibatkan masyarakat dalam upaya konservasi pesut secara berkelanjutan. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *