banner Iklan
banner Iklan

Dinilai Berlebihan, Anggaran 1,7 Miliar Untuk Promosi Pariwisata Kaltim Melalui Influencer Jadi Sorotan

Foto Estimasi Anggaran promosi pariwisata Kaltim menggunakan influencer (dok.istimewa)

Kaltim, Gayamnews.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) berencana menetapkan anggaran publikasi promosi pariwisata menggunakan influencer sebesar Rp1,7 miliar.

Hal itu menuai banyak sorotan dari sejumlah kalangan. Pasalnya besaran anggaran Rp1,7 miliar yang digelontorkan Pemprov Kaltim untuk influencer dinilai berlebihan.

Pengamat Ekonomi sekaligus Akademisi Universitas Mulawarman (Unmul), Purwadi Purwoharsodjo, menilai penggunaan dana publik dalam jumlah besar untuk program tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar terkait efektivitas dan efisiensi. 

“Di tengah tuntutan efisiensi, apakah tidak boros jika publikasi justru diserahkan kepada pihak luar seperti influencer?” ujarnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya transparansi. Menurut Purwadi, Masyarakat  berhak untuk mengetahui siapa influencer yang ditunjuk, berapa anggaran yang diterima masing-masing, serta mekanisme yang digunakan dalam proses pemilihan. Bahkan perlu juga adanya indikator keberhasilan yang jelas dan terukur.

“Total pagu tercatat sebesar Rp1,9 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp1,7 miliar dialokasikan khusus untuk jasa publikasi influencer. Sementara pengembangan desa wisata hanya mendapat Rp250 juta, dan pengembangan wisata di Desa Semayang Rp9 juta. Artinya, lebih dari 85 persen anggaran dialokasikan untuk influencer, sementara porsi untuk pemberdayaan langsung masyarakat desa jauh lebih kecil,” jelasnya.

Purwadi menilai kontras ini patut dipertanyakan. Ia menyebut desa wisata memiliki peran vital dalam menggerakkan ekonomi lokal, membuka lapangan kerja, dan memperkuat basis pariwisata yang berkelanjutan. 

Namun, ia juga menambahkan jika desa hanya mendapat anggaran kecil sementara influencer digelontorkan miliaran rupiah, arah kebijakan mengalami ketimpangan.

“Anggaran untuk influencer begitu besar, sementara desa wisata yang menjadi tulang punggung pariwisata daerah justru mendapat alokasi sangat kecil. Kalau seperti ini, apa benar prioritasnya untuk membangun pariwisata secara berkelanjutan?” tegasnya.

Dalam situasi tersebut, pengeluaran miliaran rupiah untuk influencer bisa menimbulkan persepsi publik bahwa pemerintah lebih mementingkan pencitraan ketimbang kebutuhan dasar masyarakat.

“Kalau hasilnya tidak jelas, masyarakat akan melihat ini sebagai bentuk pemborosan. Transparansi dan akuntabilitas adalah hal yang harus ditunjukkan pemerintah. Tanpa itu, justru akan lahir ketidakpercayaan,” pungkasnya. (*)

Redaksi
Redaksi
Avatar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *