BPBD PPU Buka Opsi Water Bombing Jika Karhutla Sulit Dijangkau dari Darat

Gayamnews.com, Penajam – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) membuka opsi pemadaman melalui udara atau water bombing untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sulit dijangkau petugas darat. Langkah ini menjadi alternatif apabila upaya pemadaman langsung di lokasi tidak memungkinkan menjangkau titik api.

Kepala Pelaksana BPBD PPU, Nurlaila, menjelaskan bahwa pengajuan water bombing dapat dilakukan ketika satuan tugas (satgas) darat tidak mampu mencapai lokasi kebakaran. Namun, opsi tersebut tetap memerlukan pertimbangan berdasarkan kondisi dan kebutuhan penanganan di lapangan.

“Kalau upaya satgas darat betul-betul tidak bisa ke titik api, itu bisa kita ajukan water bombing,” jelasnya. Kamis, (22/10/2026).

Menurut Nurlaila, pelaksanaan pemadaman melalui udara membutuhkan perencanaan teknis, terutama terkait ketersediaan sumber air. Petugas perlu menentukan lokasi pengambilan air yang memiliki jarak relatif dekat dengan titik kebakaran agar operasi dapat berjalan efektif.

“Yang pasti tempat ngambil airnya itu kita harus tentukan, tidak jauh dari jarak dari lokasi kejadian,” ujarnya.

Meski membuka opsi pemadaman melalui udara, BPBD PPU tetap mengandalkan penanganan darat sebagai bagian utama operasi karhutla. Petugas bersama masyarakat berupaya mengendalikan penyebaran api, terutama di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Nurlaila mengapresiasi keterlibatan masyarakat yang turut membantu penanganan kebakaran. Salah satu upaya yang dilakukan warga ialah membuat sekat bakar untuk membatasi pergerakan api agar tidak meluas ke area lain.

“Alhamdulillah masyarakatnya aktif, jadi membuat sekat sebagai upaya mengendalikan api karhutla,” ungkapnya.

Selain membuat sekat bakar, petugas juga menyesuaikan penggunaan peralatan dengan karakteristik vegetasi di lokasi kebakaran. Pompa punggung dapat membantu pemadaman pada jenis vegetasi tertentu, tetapi penggunaannya memiliki keterbatasan ketika petugas menghadapi kebakaran di lahan gambut.

“Itu bisa pompa punggung itu untuk beberapa jenis vegetasi, efektif. Tapi enggak efektif kalau gambut,” terangnya.

BPBD PPU menilai pemilihan metode pemadaman harus mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari karakteristik lahan, akses menuju titik api, kemampuan personel, hingga ketersediaan sumber air. Penyesuaian tersebut diperlukan agar penanganan karhutla berjalan lebih efektif dan mampu menekan risiko meluasnya kebakaran. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *