Kekurangan Guru Bahasa Paser, Disdikpora PPU Dorong Pelatihan hingga Beasiswa S1

Gayamnews.com, Penajam – Keterbatasan tenaga pengajar yang menguasai bahasa Paser masih menjadi tantangan dalam penerapan muatan lokal di sekolah-sekolah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) PPU mendorong pelatihan bagi tenaga lokal hingga membuka peluang pendidikan sarjana melalui dukungan beasiswa.

Sekretaris Disdikpora PPU, Durajat, menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa Paser di tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) telah berjalan. Namun, jumlah guru yang memiliki kemampuan bahasa Paser masih terbatas sehingga pelaksanaan pembelajaran belum optimal.

“Guru yang mengajar muatan lokal bahasa Paser masih kurang. Selama ini ada guru kelas yang berasal dari suku Jawa atau Bugis mengajar bahasa Paser. Idealnya, meskipun bukan orang Paser, guru tersebut tetap memahami bahasa daerah yang diajarkan,” ujar Durajat, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, kebutuhan tenaga pengajar perlu mendapat perhatian serius karena jumlah sekolah SD dan SMP di PPU hampir mencapai 500 unit. Kondisi tersebut membutuhkan tenaga pengajar yang memiliki kemampuan memadai agar siswa dapat mempelajari bahasa daerah secara tepat.

Sebagai langkah awal, Disdikpora berupaya mengoptimalkan tenaga lokal yang menguasai bahasa Paser. Sejumlah pengawas sekolah yang memiliki kemampuan bahasa daerah turut membantu memberikan bimbingan kepada guru yang mengampu muatan lokal tersebut.

“Kami mengoptimalkan dulu tenaga yang ada. Ada pengawas yang memang orang Paser dan menguasai bahasa Paser untuk memberikan bimbingan atau pendampingan kepada guru-guru muatan lokal,” katanya.

Durajat mengungkapkan, beberapa tenaga lokal yang memiliki kemampuan bahasa Paser belum memenuhi kualifikasi pendidikan sarjana. Bahkan, sebagian di antaranya bekerja sebagai tenaga tata usaha di sekolah karena belum memenuhi persyaratan pendidikan untuk menjalankan tugas sebagai guru.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah mempertimbangkan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) maupun bantuan pendidikan sarjana bagi tenaga lokal yang memiliki pengalaman dan kemampuan bahasa Paser.

Durajat mencontohkan program peningkatan kualifikasi pendidikan bagi tenaga pendidik PAUD yang sebelumnya melibatkan 30 guru lulusan SMA. Melalui kerja sama dengan Universitas Nahdlatul Ulama di Samarinda, para peserta mengikuti pendidikan untuk meningkatkan kualifikasi akademik mereka.

“Tahun lalu ada 30 guru lulusan SMA yang mengikuti program melalui kerja sama dengan Universitas Nahdlatul Ulama di Samarinda. Tahun depan mereka ditargetkan lulus,” jelasnya.

Menurut Durajat, pola serupa berpeluang menjadi salah satu solusi untuk menyiapkan tenaga pengajar bahasa Paser yang memenuhi persyaratan pendidikan. Dengan peningkatan kualifikasi tersebut, tenaga lokal berpotensi mengembangkan kompetensinya dan memenuhi ketentuan untuk menjalankan profesi guru.

Selain pendidikan formal, Disdikpora juga mendorong pelatihan secara berjenjang, mulai dari tingkat dasar, lanjutan hingga mahir. Program tersebut dapat melibatkan pemerhati bahasa Paser dan penggiat lokal agar materi pelatihan sesuai dengan kaidah serta penggunaan bahasa daerah di masyarakat.

“Nanti bisa ada diklat dasar, lanjutan, hingga mahir. Materinya dibantu pemerhati bahasa Paser dan penggiat lokal. Setelah itu, kami berharap pemerintah bisa membantu melanjutkan pendidikan mereka melalui beasiswa,” pungkasnya. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *