Kemarau Panjang Rusak 80 Hektare Sawah di PPU, Produksi Padi Terancam
Gayamnews.com, Penajam – Kemarau panjang mulai mengancam produksi padi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Dinas Pertanian (Distan) PPU mencatat sekitar 80 hektare lahan persawahan mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan. Kondisi ini berpotensi mengurangi tambahan produksi padi hingga akhir 2026.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, mengatakan angka tersebut merupakan hasil pendataan sementara yang terus diperbarui berdasarkan laporan dari lapangan.
“Yang puso itu sebelumnya 66 hektare, kemudian ada tambahan 14 hektare. Jadi, total sementara yang kami laporkan sekitar 80 hektare,” ujar Gunawan, Jumat (23/10/2026).
Selain lahan puso, kemarau juga menyebabkan luas tanaman padi yang masih tumbuh atau standing crop jauh berkurang dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menjadi perhatian karena tanaman tersebut diharapkan menyumbang produksi pada periode panen berikutnya.
“Standing crop kita sekarang ini sangat terbatas. Tahun lalu, pada bulan-bulan seperti sekarang, kita masih punya standing crop sekitar 1.300 hektare,” jelasnya.
Meski menghadapi kekeringan, produksi padi PPU hingga Agustus 2026 tercatat sekitar 45.300 ton. Angka itu melampaui capaian pada periode yang sama tahun lalu, yakni sekitar 43.000 ton.
“Sekalipun di bulan Agustus kita sudah mampu memproduksi 45.300 ton, tahun lalu pada bulan yang sama baru sekitar 43.000 ton. Artinya, sekarang kita masih unggul sekitar 2.000 ton,” ungkapnya.
Namun, Gunawan mengingatkan capaian tersebut belum menjamin produksi tetap meningkat hingga akhir tahun. Berkurangnya luas tanaman yang masih tumbuh dapat mengurangi hasil panen pada periode selanjutnya.
“Masalahnya, standing crop kita punya selisih sekitar 1.300 hektare dibandingkan tahun sebelumnya. Itu yang berpotensi menjadi kehilangan produksi kita nanti,” katanya.
Dampak kekeringan juga berpotensi memengaruhi pemenuhan target penyerapan gabah oleh Bulog. Gunawan menyebut target penyerapan mencapai 16.000 ton, sementara realisasi yang disampaikannya telah sekitar 12.000 ton pada musim tanam kedua (MT II).
Untuk membantu petani menghadapi kerugian, Distan PPU telah melaporkan kondisi tersebut kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Kementerian Pertanian. Gunawan berharap pemerintah dapat memberikan dukungan, terutama untuk meringankan beban biaya produksi yang telah dikeluarkan petani.
“Kemampuan fiskal kita terbatas. Karena itu, kami juga mengajukan persoalan ini ke Dinas Pangan Provinsi Kalimantan Timur,” terangnya.
Ia berharap laporan tersebut mendapat perhatian dan ditindaklanjuti melalui bantuan yang sesuai dengan kebutuhan petani. Dukungan sarana pengairan juga dinilai penting untuk mengantisipasi dampak kekeringan. Sebelumnya, PPU menerima bantuan 20 unit pompa untuk mendukung kebutuhan air di lahan pertanian.
Saat ini, Distan PPU terus memantau kondisi tanaman dan perkembangan panen musim tanam ketiga (MT III) di sejumlah lokasi. Pendataan lanjutan diperlukan untuk memastikan besaran kerusakan serta memperkirakan dampaknya terhadap produksi padi hingga akhir tahun. (Adv)






