Petugas Karhutla PPU Terpapar Panas, Asap dan Debu, Pemeriksaan Kesehatan Disiapkan
GAYAMNEWS.COM, PPU – Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Penajam Paser Utara (PPU) menghadapi risiko tinggi saat menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Selain mengejar kobaran api, mereka harus bekerja di tengah panas, asap dan debu. Dalam beberapa operasi, petugas bahkan harus bertahan di lokasi selama berjam-jam.
Kondisi tersebut membuat BPBD PPU mulai menyiapkan pemeriksaan kesehatan bagi personel yang turun langsung menangani karhutla.
Kepala Pelaksana BPBD PPU Nurlaila mengatakan pihaknya belum menjalankan pemeriksaan kesehatan tersebut. Namun, BPBD sudah berkoordinasi dengan RSUD Ratu Aji Putri Botung (RAPB) dan Dinas Kesehatan PPU.
“Untuk pemeriksaan belum kami lakukan, meskipun RSUD dan Dinas Kesehatan sudah membuka ruang,” kata Nurlaila, Selasa (22/09/2026).
Nurlaila mengatakan kondisi di lokasi kebakaran cukup berat. Petugas harus mendekati titik api dengan suhu tinggi, sementara asap dan debu terus memenuhi area sekitar.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat petugas menerima paparan dari berbagai material selama menjalankan pemadaman.
“Panas, asap, api, debu, itu empat material yang semua masuk ke kita, kita hirup,” ujarnya.
BPBD PPU berupaya menjaga kondisi fisik personel selama operasi. Petugas membawa persediaan air minum dan mendapat tambahan minuman jika pemadaman berlangsung lama.
Upaya tersebut penting karena personel harus mengeluarkan banyak tenaga. Medan yang sulit juga membuat proses pemadaman semakin menguras stamina.
BPBD PPU juga memperhatikan perlindungan pernapasan petugas. Masker dengan standar yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan asap dan debu.
Namun, Nurlaila mengakui tidak semua personel mampu menggunakan masker dalam waktu lama saat bekerja di lapangan.
“Masker saja harus menggunakan masker yang standar, tapi kan tidak semua juga teman-teman yang mampu menggunakan,” katanya.
Petugas akhirnya harus menyesuaikan perlengkapan dengan kondisi tubuh dan medan yang mereka hadapi.
Karena itu, BPBD tidak hanya mengejar target pemadaman. Kondisi kesehatan personel juga perlu mendapat perhatian setelah mereka menyelesaikan tugas.
Sejauh ini, BPBD PPU belum menemukan kasus luka bakar serius pada personel selama penanganan karhutla.
Meski demikian, pekerjaan di lapangan tetap menimbulkan sejumlah keluhan fisik. Beberapa petugas mengalami kelelahan, sakit pinggang hingga luka ringan pada bagian lutut.
“Memang kalau sakit pinggang, kelelahan, lutut mungkin lecet-lecet ada saja seperti itu,” tuturnya.
Nurlaila juga pernah merasakan langsung risiko ketika turun ke lokasi kebakaran. Jilbab yang ia kenakan sempat terbakar karena terlalu dekat dengan api.
“Paling pakaiannya saja yang terbakar. Kayak saya, jilbab saya terbakar semua, bolong-bolong,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan risiko yang dihadapi petugas tidak hanya muncul ketika api membesar. Jarak yang dekat dengan sumber api juga dapat membahayakan keselamatan mereka.
Melihat kondisi tersebut, BPBD PPU akan menjadwalkan pemeriksaan kesehatan bagi personel yang terlibat dalam penanganan karhutla.
BPBD akan meminta RSUD RAPB dan Dinas Kesehatan PPU membantu pemeriksaan tersebut. Pemerintah ingin mengetahui kondisi petugas setelah mereka bekerja di tengah panas, asap dan debu.
Pemeriksaan juga menjadi langkah untuk memastikan personel tetap dalam kondisi baik setelah menjalankan operasi pemadaman.
“Akan dilakukan, iya. Kami akan jadwalkan pemeriksaan kesehatan dan meminta RSUD atau Dinkes untuk memfasilitasi,” pungkas Nurlaila.









