PPU Dorong UMKM Olah Sawit Jadi Produk Bernilai Ekonomi
Gayamnews.com, Penajam – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengembangkan produk turunan kelapa sawit untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas perkebunan. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan yang berlangsung pada 20 Oktober 2026 bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Kepala Bidang Perindustrian Dinas KUKM Perindustrian dan Perdagangan PPU, Yuli Setiyowati, mengatakan kegiatan tersebut mendapat dukungan pendanaan dari pemerintah pusat. Sementara itu, pemerintah daerah membantu menyiapkan peserta dan lokasi pelatihan.
“Jadi, mereka ada pendanaan dari kementerian, sedangkan kita menyiapkan peserta dan tempat untuk pelatihan produk turunan sawit,” ujar Yuli, Sabtu (24/10/2026).
Menurutnya, masyarakat PPU sebenarnya sudah mengenal pengolahan sawit menjadi produk kerajinan. Sekitar 2016, pelatihan kerajinan berbahan lidi kelapa sawit pernah digelar untuk mendorong masyarakat memanfaatkan bagian tanaman yang memiliki nilai ekonomi.
Lidi sawit dapat diolah menjadi berbagai barang, seperti keranjang, piring, hiasan, hingga perlengkapan rumah tangga. Yuli menilai potensi tersebut masih bisa dikembangkan kembali, terutama jika pelaku usaha mendapat pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk dan memperluas pemasaran.
“Dulu, sekitar 2016, sudah pernah ada produk kerajinan dari lidi sawit. Sekarang ini kita ingin menggalakkannya lagi, sekaligus melihat produk turunan sawit lainnya yang bisa dikembangkan,” jelasnya.
Ia menegaskan, peluang pengembangan produk turunan kelapa sawit tidak terbatas pada kerajinan lidi. Beragam potensi lain juga dapat digali sesuai materi pelatihan dan kebutuhan pelaku usaha.
“Tidak hanya lidi sawit saja, karena produk turunannya banyak. Kita juga melihat kemungkinan pengembangan produk lainnya,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Perindag PPU turut mendorong keterlibatan berbagai unsur masyarakat, mulai dari PKK, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), koperasi sawit, hingga pelaku UMKM. Kolaborasi ini diharapkan memperluas keterlibatan masyarakat dalam mengolah potensi perkebunan menjadi produk bernilai tambah.
Yuli berharap pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan keterampilan peserta, tetapi juga membuka peluang usaha baru berbasis potensi lokal. Karena itu, pelaku UMKM perlu memperhatikan kualitas produk, kesinambungan produksi, dan peluang pasar agar hasil pelatihan dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
“Harapannya, masyarakat bisa mengembangkan produk yang dihasilkan menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomi. Jadi, bukan hanya belajar membuat, tetapi juga bagaimana produk itu bisa dipasarkan,” pungkasnya. (Adv)






